
Banyuwangi – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (LLP – KUKM), Armel Arifin menilai event Gandrung Sewu yang dilaksanakan tiap tahun oleh Pemkab Banyuwangi adalah media tepat menumbuhkan potensi usaha mikro daerah.
Dia melihat ada banyak nilai transaksi yang terus berputar antara penjual dan pembeli saat event berlangsung. Penjual sekaligus masyarakat lokal menjajakan produk unggulannya, dengan aneka produk oleh-oleh asli Banyuwangi, antara lain: jajanan khas, kopi, aksesoris, batik, dan kaos.
Mereka (penjual) yang selama ini dalam binaan pemerintah melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Yang tentu dikemas dalam asosiasi untuk manajemen usaha masing-masing.
“Saya harap bupati lebih giat lagi untuk terus mengembangkan dan melengkapi infrastruktur sebagai penunjang pariwisata. Pasalnya jika pariwisata tergarap dengan maksimal, sektor lainnya pasti akan ikut tumbuh. Utamanya pelaku usaha masyarakat lokal,” kata Armel.
Ida Lutmainnah penjual kaos saat acara Gandrung Sewu menjelaskan, ditemukan perbedaan penghasilan yang jauh saat dirinya mengikuti event dibandingkan hari biasa. Saat event wisatawan berjubel belanja aneka kaos. “Baik kaos untuk anak-anak, remaja, dan dewasa,” kata Ida.
Perempuan berusia 31 tahun itu membeberkan, saat mengikuti rangkaian Gandrung Sewu ini mampu meraup keuntungan Rp 2 juta, sementara di hari biasa (non event) hanya dapatkan Rp 200 ribu.
“Sebagai pelaku usaha, dengan atraksi Gandrung Sewu ini adalah cara promosi produknya ke pasar yang lebih luas kepada wisatawan. Maka, penting Pemkab Banyuwangi menggelar event-event berikutnya dilengkapi pameran produk unggulan,” terang Ida.
Hal yang sama juga dirasakan oleh penjaga stand batik khas Banyuwangi Diana Pebrianti, mengaku signifikan atas penjualan batiknya saat mengikuti pameran event ‘Gandrung Sewu’ tahun ini.
Pada dasarnya, ungkap Diana, penjualan di hari normal mengalami fluktuasi. Terkadang ada pembelian, tapi tak jarang dalam sehari hanya satu pembeli. “Saat event ‘Gandrung Sewu’ ini kami bisa dapatkan keuntungan lebih dari Rp 3 juta. Sebuah terobosan Pemkab Banyuwangi yang harus didukung,” ungkap Diana.
Sementara, salah satu pembeli Sri Rahayu mengatakan, sudah dua kali ia berkunjung di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini. Dia juga terkesan atas kebijakan pemerintah yang konsern menggarap pariwisatanya.
“Ini tadi saya belanja aneka motif kain batik, udeng (tutup kepala), dan selendang batik. Luar biasa Banyuwangi. Pengunjung dimudahkan untuk belanja aneka oleh-oleh pada event tahunan ini,” tutur Rahayu, perempuan asal Lampung.
Saat sambutan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menegaskan, Banyuwangi melihat pariwisata bukan semata-mata untuk mendatangkan uang dan turis. “Ini adalah cara pemerintah untuk mengorkestrasikan seluruh masyarakat, anak-anak, dan pemerintah untuk memajukan daerah,” jelas Anas saat sambutan, Sabtu (12/10/2019).
“Tanpa memandang latar belakang agama dan etnis antar sesama.”
Anas pun menjelaskan, inovasi merupakan kunci membangun kepercayaan diri masyakarat dan daerah. Semua instrumen telah dikembangkan untuk kenyamanan wisatawan ataupun masyarakat setempat.
“Bandara telah kita upgrade, begitu juga dengan penginapan yang representatif terus kita tumbuhkan. Hari ini kita laksanakan festival gandrung sewu, lembah ijen, dan ngopi sepuluh ewu. Inilah Kekuatan pariwisata Banyuwangi yang berbasis rakyat,” kata Anas.
Tahun ini event Gandrung Sewu mengangkat tema Panji-panji Sunangkoro. Sebuah tema yang mengisahkan perlawanan prajurit pahlawan Rempeg Jogopati dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda.(M. Sholeh Kurniawan)
